Adobe Mulai Mengembangkan AI

AI pendeteksi gambar palsu dari adobe

Banyaknya media yang suka menyebarkan berita palsu dengan menyertakan gambar-gambar yang merupakan hasil editan yang ternyata palsu, dan faktanya bahwa gambar yang merupakan hasil editan tersebuh menggunakan software Adobe Photoshop.

Namun, bukan berarti sepenuhnya Adobe bersalah, sebab jasa Adobe di dunia industry sangatlah besar dan banyak yang bergantung padanya.

Untungnya, saat ini Adobe sadar akan potensi masalah yang bisa ditimbulkan oleh trik-trik Photoshop, hingga akhirnya mereka mulai mengembangkan AI (artificial intelligence) yang dikhususkan untuk mendeteksi gambar palsu atau editan.

Peneliti Adobe yakni Vlad Morariu saat ini sedang berupaya untuk menyempurnakan AI pendeteksi manipulasi media tersebut. Pengembangan ini adalah bagian dari program DARPA Media Forensic yang disponsori oleh pemerintah Amerika Serikat.

“Kami fokus pada tiga teknik umum, yaitu pertama splicing, dua gambar yang berbeda digabungkan; Kedua copy move yaitu objek dalam foto dipindahkan dari tempat satu ke tempat lain; dan ketiga adalah removal yang berarti objek dihapus dari sebuah foto dan menggantinya dengan sesuatu yang lain,” ujarnya sambil menjelaskan ilmu di balik deteksi.

“Masing-masing teknik itu cenderung menyisakan artefak tertentu, misalnya kontras yang kuat pada bagian sudut, area yang halus tidak wajar, atau pola derau yang berbeda,” ujar Morariu pada Petapixel (23/6).

“Dengan memakai puluhan ribu contoh foto hasil manipulasi yang telah diketahui, kami berhasil melatih AI deep learning neural network untuk mengenali foto yang telah dimanipulasi,” ujarnya kembali.

perusahaan adobe
Adobe mengembangkan AI untuk mempermudah mengetahui gambar asli atau palsu

Adobe menjelaskan bahwa software yang belum memiliki nama tersebut berbasis deep-learning AI yang telah dilatih dengan melihat ribuan gambar yang ditemukan di internet. Software tersebut kini diyakini berhasil untuk mendeteksi foto hasil editan yang hampir dua kali lebih efektif daripada mata manusia.

“Konten palsu adalah masalah serius dan semakin mendesak,” kata Adobe dalam postingan blognya.

“Mata manusia mampu mendeteksi wajah hasil editan dengan efektifitas 53%. Namun dalam beberapa eksperimen, software ini dapat mendeteksi wajah hasil editan dengan efektifitas mencapai 99%.” Ujar Adobe.

Mereka mengatakan bahwa dengan menggunakan AI ini dapat bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan pada media digital. Dan dapat memberantas penipuan dalam bentuk gambar. Membuat media lebih mudah mengenali mana gambar asli dan palsu.

Dalam hal ini, Adobe berkerja sama dengan para peneliti dari University of California di Berkeley.

Pada hari selasa (18/6/2019) tim Adobe dan peneliti UC Berkeley akan melatih convolutional neural network (CNN) untuk menemukan titik perubahan di gambar yang diedit dengan fitur Photoshop, Face Awal Liquify yang memang didesain khusus untuk daerah mata, mulut dan fitur wajah yang mendetail lainnya.

“Kita hidup di zaman di mana semakin sulit untuk manusia mempercayai apa yang dilihat di internet,” ujar peneliti Adobe Richard Zhang. Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya Adobe melakukan hal ini. Mereka bahkan punya target spesifik untuk mendalami dalam hal manipulasi wajah.

AI pendeteksi gambar palsu atau asli.
AI Pendeteksi gambar palsu – Takenologi.com

Hingga sejauh ini, peneliti Adobe dan Berkeley masih mengembangkan cara bagaimana mendeteksi dan menghapus suntingan pada gambar. Bahkan, alat mereka terbukti mampu mengenali wajah yang berubah 99 persen. Itupun juga dapat mengembalikan gambar ke keadaan semula.

Diyakini hal ini bisa mengembalikan gambar ke prediksi bentuk semula sebelum diedit. Sebuah langkah penting untuk bisa mendeteksi jenis pengeditan gambar tertentu, serta kemampuan pembatalan yang bekerja sangat baik.

Namun perlu diketahui kembali bahwanya untuk saat ini software tersebut hanya mampu mendeteksi foto wajah hasil editan software dengan fungsi seperti “Face Aware Liquify” yang ada pada Photoshop, dimana dapat dengan mudah menghilangkan noda di muka, jerawat, dan mengubah fitur muka, dengan menghilangkan pipi yang lebar menjadi tirus misalnya.

Hingga saat ini masih sekadar purwa-rupa, Adobe memberitahu bahwa ia akan mengembangkan lebih jauh software ini, guna untuk mempermudah dalam mengidentifikasi foto-foto palsu yang sering dimanfaatkan untuk tindak kriminal. Tidak ketinggalan, hal ini juga nampaknya untuk mengantisipasi munculnya “deepfake” yang belum lama sempat menghebohkan internet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *