Gravitylight Lampu Bertenanga Gravitasi

lampu gravitylight

Setiap benda yang memiliki massa, pasti memiliki gravitasi. Seperti Bumi yang termasuk planet batu dengan gaya gravitasi yang cukup besar untuk memastikan penghuninya terlempar ke luar angkasa.

GravityLight adalah sebuah lampu yang dirancang untuk memanfaatkan gaya gravitasi untuk menghasilkan energi listrik. Yang nantinya tenaga itu akan digunakan untuk menyalakan lampu.

Menciptakan lampu bertenaga gravitasi memang kedengarannya mustahil. Namun dua peneliti asal London ini berhasil mewujudkannya. Tujuannya pengembangan lampu gravitasi dilandasi dengan keinginan mereka untuk menyinari seluruh rumah yang ada di negara tertinggal.

Dua orang peneliti yang diketahui bernama Martin Riddiford dan Jim Reeves itu telah bersusah payah selama 4 tahun dalam usahanya mengembangkan lampu tenaga gravitasi yang diberi sebutan GravityLight tersebut.

gravitylight gl02
gravitylight gl02

Karena memiliki tujuan yang mulia, mereka mendapatkan sambutan antusias melalui penggalangan dana lewat indiegogo.com. Bahkan, dana yang terkumpul 500% lebih banyak dari yang ditargetkan.

Penemuan ini secara khusus ditujukan untuk masyarakat wilayah terpencil yang kesulitan akses listrik. Selain itu, GravityLight Foundation selaku yayasan membuat lamput tersebut dengan guna tuk mengurangi penggunaan lampu minyak tanah didaerah pedalaman. Karena, lampu tradisional ini berbahaya bagi sistem pernapasan karena mengeluarkan asap beracun.

Baca Juga : DJI Agras Drone Khusus Para Petani

Di negara-negara Afrika, energi listrik merupakan barang yang mahal. Tidak semua tempat bisa memperoleh penerangan cahaya dari listrik. Kenya menjadi salah satunya. Kini, masalah tersebut sedikit teratasi dengan sebuah lampu ramah lingkungan bernama GravityLight.

Cara kerja dari GravityLight itu sendiri mirip dengan sistem katrol. Penggunaannya pun cukup mudah, lampu LED itu hanya perlu digantung. Lalu sebuah kantong yang menyertainya cukup diisi dengan benda berat seperti batu. 

Di dalam lampu tersebut terdapat komponen yang dapat mengubah energi kinetik menjadi energi listrik. Beban seberat 12 kilogram digantung dengan tali, proses penurunan beban tersebut memutar motor listrik dan bisa menyalakan lampu selama 20 menit.

gravitylight logo
gravitylight logo

Setelah beban yang turun menyentuh lantai, lampu akan padam dan harus mengulangi prosesnya dari awal untuk menyalakan lampu kembali. Namun begitu, setiap satu kali tarikan sudah mampu menyalakan LED sekitar 20 hingga 30 menit. Semuanya tergantung dari tinggi rendahnya beban yang kita angkat sebelumnya.

Jumlah tenaga yang dihasilkan oleh mekanisme ini tidak terlalu besar, hanya 0,1 Watt. Meski begitu, tenaga tersebut bisa pula dipakai untuk menjadi sumber tenaga perangkat lain, radio misalnya.

Baca Juga : Shoelace Media Sosial Buatan Google

GravityLight Foundation menggandeng beberapa lembaga filantropis untuk membagikan lampu ini ke beberapa desa di Kenya. Karena sifatnya yang sementara, lampu GravityLight akan lebih cocok sebagai penggunaan darurat ketimbang untuk menerangi aktivitas sehari-hari.

Tim GravityLight Foundation berharap dapat menciptakan lapangan pekerjaan kepada masyarakat lokal dengan menciptakan dan menjual lampu itu disana.

Kedepannya tim berharap dapat membuat lampu yang mampu bertahan lebih lama lagi, dengan konsumsi tenaga yang lebih sedikit namun produksi tenaga yang besar.

Guna mewujudkan cita-citanya, pada tahap awal, Riddiford and Reeves akan membagikan secara gratis 1.000 unit GravityLight kepada penduduk desa di Afrika dan India.

gravitylight
gravitylight

Kini, Lampu tersebut bisa dijual dengan harga $10. Menurut mereka , tim GravityLight, Biaya ini tentu jauh lebih murah dibanding biaya pengeluaran untuk membeli minyak tanah, yang tidak hanya menimbulkan resiko kebakaran tinggi dan menyebarkan zat karsinogen (penyebab kanker), namun juga memotong sekitar 30% dari pendapatan keluarga sehari – hari.

Itulah penjelasan mengenai GravityLight, teknologi terbaru yang sangat bermanfaat dan bisa digunakan untuk berbagi kebaikan pula. Jangan lupa untuk share pengalaman kalian di kolom komentar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *